Jumat, 03 Februari 2017

Narasi Sunyi

Kau tahu
Diruang ini, sunyi adalah tanda ketika kau tak disini

Mungkin diluar kau sedang merangkai puisi atau meremah rima suara
Sebab disini tak ada apapun selain sepi

Barangkali kau percik api atau binar ditiap benih cahaya yang menjelma
Sebab disini tak ada apapun selain gelap

Tampaknya kau selalu menjadi hangat pada senja yang luruh sehari-semalam
Sebab disini tak ada apapun selain dingin

Kau tahu
Diruang ini, sunyi adalah ketika aku bersusah payah melupakanmu

Bandar Lampung, 4 Feb 2017


Meremah Perih

Telah kulepas angin selembut kabut
Tenang beriring di tepi telaga
Tanpa cahaya atau gema suara
Tersuruk di pokok sunyi yang luput

Aku menduga kau akan terus lupa
Pada cara disaat kita saling menatap
Pada segala bahasa tanpa kata
Tetapi kau mengalir setiap detik
Di tiap keheningan yang aku terima

Aku mengutuki setiap waktu
Ketika kulihat bayangmu bergegas pergi
; aku terpaku menatap nyeri
Ketika sadar kau renggangkan hati

Bandar Lampung, 28 Jan 2017


Senin, 23 Januari 2017

Afonia

Desir angin ini menjelma sepasang mata purnama yang terjaga
Di sepertiga malam yang memeluk dingin tubuh renta

Atau lumut dinding yang senyap, yang luput dari segala cuaca
Dari matahari, bayang cakrawala juga gelombang udara

Mengukur rasa, yang luruh pada butir euforia, mendaur paradigma usai lara menggema

Pertama hanya lahir rasa nyeri, usai menduga-duga kemudian diserang afonia

Diluar, mereka akan terus lupa, bahwa tawa bermula dari lara

Bandar Lampung 24 Jan 2017


Minggu, 22 Januari 2017

Getar

Kau kekalkan sebuah rindu pada tahap paling purna
Yang lahir di tiap hembus, hela juga jeda pada deret nafas

Kau kekalkan cinta pada tahap paling purna
Yang lahir di tiap molekul udara, gelombang hermonis, juga frekuensi bunyi yang tertangkap telinga

Kau kekalkan harap pada tahap paling purna
Yang lahir di tiap benih foton, spektrum, juga candela yang disimpan retina

Tetapi, kau juga menyadarkanku pada tahap paling purna
Pada waktu yang bergetar di dada

Bandar Lampung, 23 Jan 2017


Kamis, 19 Januari 2017

Antara

Aku sadar, kau akan selalu terselip dalam ingatan
Seperti awan yang menyimpan hujan

Seperti mandalawangi yang menyimpan wangi edelweiss dan dingin disepanjang musim

Aku sadar kau akan selalu menjadi keheningan pagi yang aku cari yang selalu menyapu dinding risauku

Kau akan selalu menjadi bisik magis di gendang telinga atau cahaya yang tertangkap retina

Aku sadar kita adalah sebaris kabut yang gagal dibaca musim
Seperti desir angin di muka air

Kita acapkali terjaga bersama, sebelum sunyi menjelma tangkai bunga juga gelombang udara di angkasa

Kau selalu merentangkan kata menjadi kumpulan stanza
Dan aku penyair yang gagal mentafsir getir

21 Jan 2017


Minggu, 15 Januari 2017

Disini

Disini setiap detik yang usai menjadi gelora yang menggenang di dada

Seluruh semesta tenggelam pada baris nafas dalam satu kata

Tanpa tanda ataupun isyarat kau adalah gurat waktu dimataku

Melampaui apa yang ada seperti kata yang bisu di tepi pasu

Disini kita saling menyeberang dalam fikiran

Disini kita kelana yang tak pernah ingin pulang

Disini kita malam yang luruh dalam satu pandangan

Bandar Lampung 2017


Kamis, 12 Januari 2017

Frasa

Langit kembali menutup ruang bagi cahaya, mega-mega dipaksa pulang selepas hujan
; sebuah epigraf jatuh di ujung jarimu

Kelok jalan menjarah kisah, menanak intuisi tentang tajam matamu
Suara-suara membentuk integral disisi bahasa

Kita bersiap melepas gema dari ujung telinga, setumpuk gita berhamburan di kolong retina
Peluk hangatmu jatuh di dasar hati

; aku tak akan pergi

Barangkali di bentang cakrawala, suatu saat nanti kita menjelma sepasang sayap
Melayang diantara mega dan rinai cahaya, menyatu bersama bias nebula

Bandar Lampung, 2017